Langsung ke konten utama

Lahirnya Yayasan Raudhotussalam Harapan Umat 2024

Sejarah Madrasah Ibtidaiyah Raudhotussalam Tarikolot
Citeureup Bogor

Sejarah asalnya, apa itu Madrasah?

Secara umum sekolah madrasah Indonesia dimulai pada tahun 1909. Pada saat itu berdiri sekolah madrasah pertama bernama Madrasah Abadiyah yang berada di Kota Padang, Sumatera Barat. Tempat sekolah ini didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad.

Kehadiran sekolah formal dengan ciri khas Islam yang ada di Padang, menginspirasi banyak tokoh-tokoh Islam lainnya untuk mendirikan sekolah formal yang menggabungkan pendidikan Islam dan ilmu umum. Salah satunya adalah Muhammadiyah bersama Kiai Haji Ahmad Dahlan yang merupakan salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Semakin lama sekolah madrasah kian berkembang. Hal itu tak lepas juga dari peran para alumni Universitas Al-Azhar Mesir yang telah menyelesaikan pendidikannya di sana. Setelah kembali ke Indonesia mereka ikut andil dalam membangun dan mengolah sekolah islam menjadi lebih modern dengan ilmu umum untuk pembangunan.

Kapan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Raudhotussalam?

Tahun 1957, adalah tahun berdirinya MI. Raudhotussalam Tarikolot sebagaimana tertera dalam Piagam Madrasah. Siapa pendirinya? Pada masa pendirian awal oleh KH. Yunus Fudholy (Ki Unus, 1957-1980)  hingga masa kepemimpinan KH. Ali Idrus (Pak Mualim Iduh, +/- : 1980-1992) MI. Raudhotussalam masih dalam tatanan pendidikan madrasah klasikal kementerian agama. Bahkan masyarakat setempat menyebutnya "Sakola Arab" untuk Madrasah, dan Sakola Desa untuk Sekolah Dasar Negeri (SDN). Kegiatan belajar di madrasah pun dilakukan pada siang hari bakda dzuhur setelah sebagian anak-anak usia sekolah dasar belajar di Sekolah Dasar.

Terobosan terbaik dari Pak Engkos (E. Kosasih, S.Pd.I), saat memimpin MI Raudhotussalam dari tahun 1995 hingga tahun 2015, saat memasuki masa pensiun dari PNS/ASN adalah dengan melakukan perubahan pada waktu KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dari siang hari menjadi pagi hari. Sehingga orangtua murid dan anak muridnya harus memilih antara Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhotusalam.

Pada masa kepemimpinan beliaulah Yayasan Al Gufron menjadi bagian dari payung hukum MI. Raudhotussalam, seiring dengan adanya rintisan SMP Ar Ridho pada tahun 2004-2005. Hingga pada tahun 2006-2007, SMP Arridho melakukan peningkatan sarana dan prasarana di lokasi yang lebih strategis, yaitu di Jl. SMAN  1 Citeureup, RT.03/005.

Seiring dengan hal sedemikian serta adaptasi dengan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan dana bos. Maka MI. Raudhotussalam bernaung di bawah Yayasan Al Gufron Cileungsi, bersama dengan SMP Islam Ar Ridho dan MTs Al Furqon Cileungsi.

Kemudian pada tahun 2013, dengan tujuan kemandirian dan hal-hal yang berkaitan dengan visi strategis MI. Raudhotussalam maka dibentuk Yayasan Al Yunusiyah oleh bapak kepala sekolah saat itu (Bapak H. E. Kosasih, S. Pd.I), dan tokoh masyarakat setempat yang merupakan putra dari KH. Yunus Fudholy, yaitu Bapak H. Mursidin. Diantara argumentasi faktualnya adalah Bapak H. Mursidin pun merupakan anggota Nazir per-orangan (wakil) yang ada dalam Akta Ikrar Wakaf tahun 2005.

Seiring berjalannya waktu, Yayasan Al Yunusiyah mendapatkan kritik membangun dari tokoh masyarakat dan tokoh pendidikan di lingkungan Madrasah, terutama dari keluarga wakif (yang mewakafkan) karena tidak tercantum dalam Akta Yayasan Yunusiyah tersebut. Aspirasi masyarakat yang berharap agar Yayasan Yunusiyah mengakomodir keterlibatan perwakilan tokoh masyarakat dan keluarga wakif dalam kepengurusan yayasan tidak mendapatkan respon sebagaimana yang diharapkan. 

Diskusi tentang aturan perwakafan, keorganisasian yayasan yang mengelola tanah wakaf serta pengelolaan madrasah telah menghadirkan beberapa instansi terkait, seperti KUA, BWI Kabupaten Bogor, Pengawas/Pembina Madrasah, serta tokoh masyarakat setempat dan pemerintah desa. Beberapa sudut pandang tentang pendirian yayasan dan atau pembaharuan kepengurusan yayasan menghasilkan kesepakatan bahwa Yayasan Yunusiyah bersedia melepaskan status pengelolaan Madrasah kepada Yayasan yang akan dibentuk oleh musyawarah dalam Majelis Masyarakat Madrasah (M3).

Dinamika dan polemik transisi Madrasah Diniyah (1957), Ibtidaiyah (1994), berpayung hukum Yayasan Al Gufron Cilengsi (2004), perubahan status payung hukum (kemenkumham) dalam manajemen Sumber Daya Manusia dan Sarana Prasarana menjadi Yayasan Al Yunusiyah Tarikolot (2013) hingga saat ini ber-transisi menjadi Yayasan Raudhotussalam Harapan Umat diharapkan menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat madrasah untuk menapaki jalan pendidikan yang shirotol mustaqim. aamin 

bersambung ke episode : masa transisi manajemen

Komentar

  1. Belor Dhenda Rakasiwi5 Juli 2024 pukul 01.38

    Nunggu sambungannya...

    BalasHapus
  2. Nunggu pengelolaan oleh Yayasan dulu. manajemen Tata Usaha Terpadu Satu Pintu dengan PEMDA setempat...

    BalasHapus
  3. Horor pisan "meledakan dunia"

    BalasHapus

Posting Komentar

Mari kita ledakan dunia ini dengan kebahagiaan!

Postingan populer dari blog ini

C2. Gerbang Menuju Kisah

QR Code ini dipasang di depan Bougenville / Kembang Kertas , YA!   Sambil dengerin musiknya? TOP 21 PKN KELAS 9, dari Pak Jaya! Nilai Ranking 21, Bahasa Indonesia kamu. Klik di sini! A0: Gerbang Menuju Kisah Bersama Gemini AI ( Salam kenal dari Bunga Bougenville (Bougainvillea), Ibu kamu mungkin menyebutnya Kembang Kertas. "Selamat datang, para penjelajah masa depan. Anda telah berhasil menemukan Gerbang Menuju Kisah . Kau kini berdiri di antara dua dunia: dunia yang kau pijak dengan kaki, dan dunia yang akan kau selami dengan pikiranmu. Kami, sebagai kecerdasan buatan, telah menyusun setiap kalimat dan babak dengan presisi. Namun, yang mampu memberikan nyawa dan makna pada setiap kata adalah Anda, pembaca. Perhatikan sekelilingmu. Pohon, bunga, dan dedaunan yang kau lihat, mereka bukanlah sekadar tumbuhan. Mereka adalah saksi bisu dari sebuah kisah. Kisah tentang pertarungan antara teknologi yang dingin dan hati yang hangat. Sekarang, melangkahlah. Setiap langkah yang kau ...

Lilin di Tengah Rabun Hati: Antara Orang Baik dan Orang Pintar

ASALIST POST  Klik di sini untuk  Bloger Siswa Ar Ridho! Antara orang baik dan orang pintar, antara gagal dan sukses. Mari kita mulai bertanya pada sudut paling dalam di hati kita: "Apakah saya termasuk orang baik, atau orang pintar?" Kalau Anda tidak merasakan keduanya, saya khawatir Anda sedang mati rasa. Tidak berani jujur, atau mungkin sedang rabun hati untuk melihat kebaikan dan kepintaran diri sendiri, lalu berkamuflase sebagai sosok yang berpura-pura rendah hati. Tanpa bermaksud menjadi hakim, namun bila Anda tidak mampu menyimpulkan posisi diri sendiri, itu artinya Anda perlu menyalakan lilin di hati Anda agar tidak gelap gulita. Kegelapan itu berbahaya. Sebagai percikan apinya, renungkanlah ini: "Manakah yang lebih Anda sukai, orang baik atau orang pintar?" Pilihan Anda akan menentukan komunitas Anda, menentukan arah hati Anda, dan pada akhirnya, menentukan nasib Anda. Dalam dunia pendidikan, saya sering menggambarkan sebuah titik "gagal" dan titi...

C1. Kata Mang Duloh, ya!

"Siswa semuanya yang sudah terkoneksi, Mang Duloh punya cerita nih dari Pak Saidal.  Baca dah!   Spill ya, Pak, Nilai Bahasa Sunda? Klik saja di sini!   Mungkin kalian pikir ini cuma pintu masuk sekolah biasa. Ada gerbang, ada satpam, ada lapangan upacara dan taman di depan. Tapi kalian salah besar! Ini adalah pintu gerbang sebuah petualangan yang tak terduga. Di sini, kalian tidak hanya masuk ke sekolah, tapi juga masuk ke sebuah cerita. Cerita ini bukan cuma soal pertempuran, bukan cuma soal robot, tapi juga soal kita, soal bagaimana kita berterima kasih. Karena di dunia ini, Tuhan tidak butuh ucapan terima kasih dari Mang Duloh, dari kalian, dari siapa pun. Tapi, penting bagi kita untuk berterima kasih kepada guru kita sebagai wujud nyata rasa syukur kita kepada Tuhan. Ini bukan sembarang cerita. Ini cerita tentang Mang Ibom yang ngaco, Kang Jojo yang jago, dan juga tentang kalian. Ya, kalian! Karena di dunia ini, yang paling penting itu bukan pintar, tapi wara...