Antara orang baik dan orang pintar, antara gagal dan sukses. Mari kita mulai bertanya pada sudut paling dalam di hati kita: "Apakah saya termasuk orang baik, atau orang pintar?" Kalau Anda tidak merasakan keduanya, saya khawatir Anda sedang mati rasa. Tidak berani jujur, atau mungkin sedang rabun hati untuk melihat kebaikan dan kepintaran diri sendiri, lalu berkamuflase sebagai sosok yang berpura-pura rendah hati.
Tanpa bermaksud menjadi hakim, namun bila Anda tidak mampu menyimpulkan posisi diri sendiri, itu artinya Anda perlu menyalakan lilin di hati Anda agar tidak gelap gulita. Kegelapan itu berbahaya. Sebagai percikan apinya, renungkanlah ini: "Manakah yang lebih Anda sukai, orang baik atau orang pintar?" Pilihan Anda akan menentukan komunitas Anda, menentukan arah hati Anda, dan pada akhirnya, menentukan nasib Anda.
Dalam dunia pendidikan, saya sering menggambarkan sebuah titik "gagal" dan titik "sukses" di papan tulis, lalu menarik garis panjang di antara keduanya dengan satu kata: PROSES. Bagi yang beriman, kita tahu bahwa catatan malaikat tidak mengenal kolom "Gagal" atau "Sukses". Keduanya hanyalah media—media pahala atau media belajar. Yang dicatat oleh pena langit bukanlah hasil akhir yang divalidasi manusia, melainkan amalan yang termaktub dalam setiap jengkal proses tersebut.
Di sinilah letak perdebatannya. Apakah orang pintar otomatis mulia? Belum tentu. Di dunia iklan, orang pintar mungkin hanya butuh "minum tolak angin" saat lelah. Tapi di hadapan keabadian, apakah orang pintar punya jaminan surga? Pun dengan orang baik, apakah kebaikannya adalah investasi tulus atau sekadar transaksi sosial demi pujian? Surga bukan milik mereka yang merasa pintar atau merasa baik, melainkan milik mereka yang "sibuk berproses" di jalan-Nya.
Jika kita mendaki lebih tinggi ke arah tauhid, kita akan menemukan bahwa Tuhan Maha Pintar dan Maha Baik. Tuhan mustahil bodoh karena Ia adalah Sang Pencipta yang Maha Arsitek. Dahsyatnya, Ia menciptakan kita dengan "meminjamkan" sebagian kecil dari sifat-sifat-Nya. Kita mendengar, melihat, dan berkehendak karena Ia pun Maha Mendengar, Melihat, dan Berkehendak.
Maka, pertanyaan terakhir yang harus kita jawab sebelum menutup hari ini adalah: Jika Sang Pencipta telah memberikan karunia berupa percikan sifat-sifat-Nya yang luar biasa itu ke dalam nadimu, kenapa Anda tidak menciptakan sesuatu sebagai amalan nyata? Gunakan kepintaranmu sebagai alat, gunakan kebaikanmu sebagai ruh, dan lahirkanlah sebuah karya. Sebab pada akhirnya, lilin yang Anda nyalakan bukan untuk menerangi diri Anda sendiri, melainkan untuk membuktikan bahwa Anda hidup dan berfungsi sebagai hamba-Nya.

Komentar
Posting Komentar
Mari kita ledakan dunia ini dengan kebahagiaan!